Pemerintah Indonesia telah mengonfirmasi bahwa mulai tahun ajaran 2025/2026, mata pelajaran Coding dan Kecerdasan Buatan (AI) ****akan masuk dalam kurikulum untuk siswa Sekolah Dasar (SD). Keputusan ini diambil sebagai upaya meningkatkan literasi digital, dan menciptakan generasi muda yang dapat memanfaatkan perkembangan teknologi secara positif dan produktif.
Ditulis dalam situs resmi Kemendikdasmen, bahwa pembelajaran coding dan AI sangat penting dalam dunia pendidikan modern di era industri 4.0 dan 5.0. Tanpa keterampilan dan pemahaman teknologi yang memadai, generasi muda akan mengalami tantangan besar dalam menghadapi persaingan di dunia kerja. Oleh karena itu, memasukkan coding dan AI ke dalam kurikulum sekolah bukan hanya sekadar inovasi, tetapi juga langkah penting dalam membentuk sumber daya manusia yang kompetitif dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa dalam naskah akademik mengenai pembelajaran coding dan AI, terdapat berbagai aspek yang dibahas, termasuk dasar pendidikan, konsep yang diajarkan, cakupan materi, durasi pembelajaran, serta kualifikasi dan kompetensi yang harus dimiliki oleh guru pengampu.
Dalam naskah akademik, waktu pembelajaran siswa SD/MI kelas 5 dan 6 akan mendapatkan 2 jam pelajaran per minggu untuk mempelajari dasar-dasar koding dan AI. Beberapa materi yang akan diajarkan menurut Mu’ti adalah bahwa
“Pembelajaran coding pada jenjang SD/MI akan berfokus pada pengenalan dasar pemrograman dengan cara yang mudah dipahami anak-anak. Siswa akan belajar menyelesaikan masalah sehari-hari secara terstruktur menggunakan alat bantu seperti balok susun atau kepingan gambar. Sedangkan dalam pembelajaran AI, siswa akan diajarkan mengenai dampak AI dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan teknologi AI sesuai etika dan kesadaran moral, belajar membedakan AI dan non-AI serta memahami konsep dasar kerja AI, yaitu input, proses, dan output,” katanya.
Tantangan dalam Implementasi
Meski kebijakan ini disambut baik oleh banyak pihak, ada beberapa tantangan yang harus diatasi, di antaranya:
1. Kesiapan guru
Banyak guru SD yang belum memiliki latar belakang dalam teknologi dan pemrograman. Oleh karena itu, pemerintah akan menyediakan pelatihan khusus bagi para pendidik.
2. Akses teknologi
Tidak semua sekolah memiliki fasilitas komputer yang memadai, terutama di daerah terpencil. Pemerintah berencana untuk bekerja sama dengan sektor swasta guna mendukung penyediaan infrastruktur teknologi.
3. Metode pembelajaran yang efektif
Kurikulum harus dirancang agar mudah dipahami oleh anak-anak tanpa membuat mereka kewalahan.
Sebagai platform edukasi yang berfokus pada pembelajaran coding dan AI untuk anak-anak, Codero Education hadir untuk mendukung implementasi kurikulum baru ini dengan metode yang menyenangkan, interaktif, dan sesuai dengan perkembangan usia siswa. Dengan tenaga pengajar berpengalaman serta kurikulum yang telah disesuaikan dengan standar pendidikan, Codero Education membantu anak-anak memahami konsep dasar pemrograman dan kecerdasan buatan melalui pendekatan game-based learning dan project-based learning.
Selain itu, Codero education juga menyediakan berbagai kelas coding dan AI yang dapat diakses oleh sekolah maupun individu, baik secara online maupun offline. Dengan Codero Education, anak-anak tidak hanya belajar teknologi, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir logis, problem-solving, serta kreativitas yang akan menjadi bekal mereka di masa depan. Siapkan generasi muda untuk menghadapi era digital bersama Codero Education!